Monday, 24 April 2017

Cara Membuat Plot dan Tokoh cerita terkesan Bernyawa


Untuk membuat plot dan tokoh dalam cerita terkesan "bernyawa", kamu bisa menyisipkan beberapa part kisah atau kejadian nyata yang kamu dan atau orang lain alami. Misal, meletakkan part "kisah nyata" tersebut pada konflik ataupun dialog.
Namun, tetap hindari gaya penulisan telling plot. Nah, di sini, kematangan diksi dan permainan "show don't tell" sangat berperan penting untuk membawa pembaca ikut masuk ke dalam konflik dan tokoh yang kamu ciptakan.
Berikut contoh simple yang kita coba angkat dari chapter sebuah embrio novel menggunakan POV1:

Suasana sore di pedesaan yang masih asri ternyata sangat sejuk. Membuat betah orang-orang yang merindukan kedamaian dari pergumulan Ibukota sepertiku. Hampir setiap rumah warga di desa ini halamannya memiliki tanaman pohon-pohon kelengkeng dan bunga. Tak terkecuali halaman rumah orang tuanya Jagat.
Semburat warna orange perlahan mulai terlukis di langit desa. Pemandangan ini benar-benar menyenangkan. Kuhirup udara sore yang sejuk hingga seluruh aromanya memenuhi ronggga dada.
“Baru kali ini suasana sore di desa tampak begitu cantik …!”
“Uhuukk-khuukhh!”
Lenyap sudah rasa nyaman di dalam rongga dada karena tersedak air ludah sendiri saat mendengar suara yang sangat kukenali itu. Siapa lagi kalau bukan dia? Dia yang selalu mampu membuat detik-detik berputar melambat hingga tak bisa kusingkirkan rona merah yang menyapu bersih di kedua pipi.
“Hei? Kamu baik-baik saja?” tanya Jagat dengan wajah cemas. Berkali-kali aku kepayahan menelan ludah saat berhadapan dengan makhluk ini. Tanpa menjawab apapun, cangkir yang berisi wedang jahe di tangannya sudah berpindah ke bibirku hingga isi cangkir tersebut kosong. Hangat. Melegakan. Wedang jahe sore ini benar-benar nikmat.
“Ehem …, Wedang jahenya enak, ya?”
“Enak banget! Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk lancang merebut cangkir itu dari tangan kamu ….”
“Santai saja. Suka sama wedang jahenya?”
“Suka banget!” sahutku menyodorkan cangkir kosong tadi dengan ekspresi malu-malu menatap ke arahnya.
Entah apa sebab, wajah pria itu tiba-tiba merona. Terlihat dia mengusap-usap tengkuknya seraya mendesis seperti ular. Tentu saja pemandangan ini langka. Ada apa dengan makhluk yang berada tepat di sisi kiriku saat ini?
“Kamu kenapa, Jagat?” selidikku hati-hati.
“Enng …, Anu, wedang jahe itu ... bekas aku minum tadi ….” lirih Jagat tanpa melihat ke gadis yang melongo cengo saat mendengar jawabannya. Bisa dikatakan, wajahku sudah sangat memerah dan panas seperti kepiting rebus yang baru saja matang.
Ya Rabbi! Tidak ada satupun barang yang bisa aku gunakan untuk menutupi rona merah yang menyembul dari wajah ini. Detak jantung berpacu sangat cepat diiringi desiran darah yang melaju seperti nyanyian debur ombak. Duh, Gusti!
Lama kami terdiam, tanpa saling memulai obrolan baru satu sama lain. Masing-masing sibuk menata degub jantung yang berpacu dalam melodi cinta. Tunggu! Cin-cinta? Ah, benar. Cinta. Lima huruf itu seperti lima penyihir yang selalu saja menaburkan benih merah muda dalam hatiku akhir-akhir ini. Parahnya lagi, benih-benih itu tumbuh dengan subur saat bersama Jagat. Apalagi tadi tanpa sengaja menikmati rona merah di pipi berlesung miliknya. Duh, pemandangan yang langka. Bukankah harusnya aku menjaga mata agar tidak semakin terperosok dalam cinta pada makhluk? Tapi itu sungguh pemandangan yang langka. Jagat, dia benar-benar terlihat lucu saat tersipu. Arrghh! Siapa saja, tolong cuci syaraf otak ini dengan pemutih biar bersih.


Mudah bukan? Selamat berkarya! Salam literasi

Incoming Search: cara membuat alur bernyawa, cara membuat tokoh bernyawa, tips membuat alur, tips membuat tokoh

Artikel Terkait

This Is The Newest Post